Thursday, 10 February 2011

Implementasi Jarkom

Seperti kita ketahui, Jaringan Komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama.Dalam sehari-hari, secara sadar atau tidak sadar kita telah mengimplementasikan jaringan komputer di kehidupan kita.

1. Implementasi Jarkom pada Bisnis :
    Bukan hal yang asing bagi kita, bahwa saat ini berbisnis-pun tidak harus melulu berdagang di toko dan menunggu barang dagangan kita laku. Seiring berlalunya waktu maka kebutuhan teknologi akan semakin maju. Dapat kita lihat saat ini banyak Jual-Beli Online yang sepertinya sudah menjamur. Jual-Beli Online tersebut adalah contoh dari implementasi Jarkom pada bidang bisnis. Dengan bermodalkan internet, maka kita dapat menjual dan mempromosikan barang dagangan kita secara cepat. Begitu-pun bagi pembeli, tidak harus repot-repot datang ke mall, toko, atau pasar untuk membeli barang yang dicari, hanya cukup searching online maka kita dapat menemukan banyak barang sesuai kemauan kita.

2. Implementasi Jarkom pada Mobile Network :
    Mendengar kata kita sedang "Online on Mobile" bukanlah suatu hal yang mengherankan saat ini, dimana hampir semua Mobile atau sebut saja Handphone mengimplementasikan Jarkom pada penggunaanya. Contohnya : Symbian Phone, Smart Phone, Android, iPhone, dilengkapi dengan teknologi internet yang membuat penggunanya dapat melakukan hal yang hampir sama dengan laptop/komputernya di rumah dengan adanya jaringan internet. Jadi, kita tidak perlu repot membawa laptop yang ukurannya besar, hanya dengan handphone di tangan dan praktis bisa di masukkan ke saku maka kita dapat menjangkau dunia.

3. Implementasi Jarkom pada Rumah :
    Jaringan Komputer telah merambah kemana saja, termasuk di setiap rumah di kawasan maju mungkin bukan hal yang tak mungkin bahwa setiap rumah telah dilengkapi dengan fasilitas yang menggunakan jaringan komputer. Contohnya saja tidak setiap orang bekerja harus datang ke tempat kerja karena dengan adanya jaringan komputer, maka kita dapat mengakses pekerjaan dimana saja termasuk di rumah. Hal ini dapat sangat mengefisienkan waktu kita.

4. Implementasi Jarkom pada Perbankan :
    Kita ambil satu contoh, adanya mesin ATM adalah salah satu penerapan jaringan komputer yang dipakai di perbankan. Dengan adanya mesin tersebut, kita dapat mengakses keperluan kita pada mesin ATM, dimana mesin tersebut telah terhubung dengan komputer pusat bank tersebut. Dengan demikian, semakin banyaklah manfaat dari jaringan komputer tersebut dan semakin banyak implementasi jaringan tersebut, dengan demikian waktu akan semakin digunakan dengan seefisien mungkin.



Sistem Ekonomi Tradisional & Sistem Ekonomi Syariah

*Sistem Ekonomi Tradisional yaitu :
   Sistem ekonomi ini merupakan sistem ekonomi yang dijalankan secara bersama untuk kepentingan bersama (demokratis), sesuai dengan tata cara yang biasa ditempuh oleh nenek moyang sebelumnya.

Dalam sistem ini segala barang dan jasa yang diperlukan, dipenuhi sendiri oleh masyarakat itu sendiri. Tentunya Anda akan bertanya apa tugas pemerintah dalam sistem ekonomi tradisional ini?

Dalam sistem ekonomi tradisional, tugas pemerintah hanya terbatas memberikan perlindungan dalam bentuk pertahanan, dan menjaga ketertiban umum. Dengan kata lain kegiatan ekonomi yaitu masalah apa dan berapa, bagaimana dan untuk siapa barang diproduksi semuanya diatur oleh masyarakat.

Pada umumnya, sistem perekonomian ini berlaku pada negara-negara yang belum maju, dan mulai ditinggal.

*Sistem Ekonomi Syariah yaitu :
  Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah merupakan perwujudan dari paradigma Islam. Pengembangan ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah bukan untuk menyaingi sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi sosialis, tetapi lebih ditujukan untuk mencari suatu sistem ekonomi yang mempunyai kelebihan-kelebihan untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari sistem ekonomi yang telah ada. Islam diturunkan ke muka bumi ini dimaksudkan untuk mengatur hidup manusia guna mewujudkan ketentraman hidup dan kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat sebagai nilaiekonomi tertinggi. Umat di sini tidak semata-mata umat Muslim tetapi, seluruh umat yang ada di muka bumi. Ketentraman hidup tidak hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan hidup secara melimpah ruah di dunia, tetapi juga dapat memenuhi ketentraman jiwa sebagai bekal di akhirat nanti. Jadi harus ada keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup di dunia dengan kebutuhan untuk akhirat.
Tiga Prinsip Dasar Yang Menyangkut sistem ekonomi Syariah menurut Islam
1. Tawhid, Prinsip ini merefleksikan bahwa penguasa dan pemilik tunggal atas jagad raya ini adalah Allah SWT.
2. Khilafah, mempresentasikan bahwa manusia adalah khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini dengan dianugerahi seperangkat potensi spiritual dan mental serta kelengkapan sumberdaya materi yang dapat digunakan untuk hidup dalam rangka menyebarkan misi hidupnya.
3. ‘Adalah, merupakan bagian yang integral dengan tujuan syariah (maqasid al-Syariah). Konsekuensi dari prinsip Khilafah dan ‘Adalah menuntut bahwa semua sumberdaya yang merupakan amanah dari Allah harus digunakan untuk merefleksikan tujuan syariah antara lain yaitu; pemenuhan kebutuhan (need
fullfillment), menghargai sumber pendapatan (recpectable source of earning), distribusi pendapatan dan kesejah-teraan yang merata (equitable distribution of income and wealth) serta stabilitas dan pertumbuhan (growth and stability).

Wednesday, 9 February 2011

"Nilai Sepuluh bagi Tina"

“Tina, cewek berusia 17 tahun, Ia ramah, dan selalu menebar senyum ceriahnya. Tapi, Tina adalah seorang penderita “cerebral palsy”, sejenis kelainan tubuh, dimana beberapa bagian otot-otot tubuhnya kaku dan lumpuh. Karena kelainan ini pula, ia mengalami kesulitan untuk berbicara. Ia harus menggunakan alat bantu untuk menerobos hiruk-pikunya lorong sekolah.

Orang-orang agak enggan berbicara dengannya, mengapa ? Entahlah, mungkin karena ia kelihatan ‘berbeda’ dan siswa-siswa tidak tahu atau canggung untuk mendekatinya. Tetapi Tina adalah orang yang ramah. Ia tidak pernah bosan berkata “Hai” dengan orang-orang yang ditemuinya di lorong.

Tugas hari ini ialah menghafal puisi yang berjudul “Jangan Putus Asa”. Bobot nilai tugas ini hanya 10, berbeda dengan tugas-tugas lain seperti Quis- yang biasanya aku beri bobot 100 di kurikulum sekolah. Aku jadi ingat sewaktu sekolah dulu, jika ada guru yang memberi tugas dengan bobot nilai 10, pasti aku menganggapnya remeh ..yah karena itu tidak begitu penting, dan tidak berpengaruh banyak pada nilai indeks akhir semesterku.

Hari ini aku – seorang guru di sekolah ini – melihat Tina di kelasku untuk mengikuti tugas yang aku berikan pada murid-muridku. Aku menemukan ada yang lain pada dia.. ya ! dibalik senyum cerahnya itu ia seperti menyimpan kekhawatiran.. “Tidak usah cemas Tina” Kataku pada diri sendiri, “Bobot nilainya cuma 10.”

Aku mulai melaksanakan tugas yang aku berikan pada murid-muridku. Satu-per-satu mereka maju ke depan kelas – untuk mengucapkan puisi tanpa teks. Dan dapat kuduga, sebagian besar dari mereka ‘lupa’ atau hanya bisa menghapal sepotong dua potong kata dari puisi tersebut. Yah.. mereka juga tahu bahwa bobot nilai tugas ini hanya sedikit, dan aku tahu, mereka tidak begitu serius mempelajarinya.

Aku mulai bergurau pada mereka, “Jika ada yang masih tidak hapal, Bapak akan langsung suruh kalian push up 10 kali !”. Ya, ini hanya gurauan, dan seisi kelas pun tertawa karena ‘kekesalanku’ ini.

Aku tidak sadar, ternyata yang mendapatkan giliran maju ke depan kelas berikutnya adalah Tina.

Sepatah demi sepatah Tina mulai mengucapkan bait-bait puisi tersebut. Dan belum sampai akhir bait kedua… Ia mulai lupa. Sebelum aku mulai berkata, tiba-tiba Tina melempar alat bantu jalannya dan mulai mengambil posisi push up. Aku terkejut setengah mati, dan spontan berkata, “Tina, aku hanya bercanda !” Tina pun merangkak mengambil alat bantunya, kemudian – dengan bantuanku ia berdiri lagi, meneruskan puisinya.

Dan, Tina berhasil mengucapkan puisi itu secara sempurna ! tidak lupa sama sekali. Dia adalah salah satu diantara 3 muridku yang bisa mengucapkan puisi itu secara sempurna.

Ketika selesai berpuisi, salah satu murid bertanya padanya, “Tina, mengapa engkau bersikeras melakukannya ? Bukankah bobot nilainya cuma 10 ?” Tina memerlukan sedikit waktu sebelum menjawab, “Karena aku ingin seperti kalian, normal !”

Keheningan mulai menyelimuti seluruh kelas. Semua tiba-tiba diam – termasuk aku. Kesunyian ini pecah saat ketika seorang siswa berkata, “Tina, sejujurnya kami juga tidak normal, kami hanya anak-anak biasa, sering sekali berbuat kesalahan.”

“Aku tahu, ” Jawab Tina dengan senyum lebar menghias wajahnya.

Tina memperoleh nilai maksimal saat itu, Sepuluh ! dari bobot nilai yang sebesar 10 juga. Ia juga mendapatkan rasa sayang dan hormat dari teman-teman sekelasnya. Aku tahu betul, baginya, itu jauh lebih berharga dibandingkan nilai yang cuma berbobot sepuluh itu.

- Terinspirasi dari kisah nyata, seperti yang dituturkan Tom Krause,
Seorang Guru SMU di USA, pernah dimuat di Washington Post, 2002.

Jangan Benci Aku MAMA !

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya
lumayan tampan namun terlihat agak bodoh.

Sam, suamiku, memberinya nama Eric.

Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang.

Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau
pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu.
Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.

Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak
perempuan yang cantik mungil.

Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam.

Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian
anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric.

Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut.

Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih
penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia.

Eric sudah berumur 4 tahun kala itu.

Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk.

Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup.

Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica.

Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.
Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk
membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa.

Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima.

Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi
hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri
sekolah perawatan.

Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.

Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali.

Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali
pada Mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak
pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu.

Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun.

Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat
itu juga.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film
yang diputar dikepala saya.

Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.

Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya, saya harus mati..., mati..., mati...

Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan
tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya.

Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric...


Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan
pandangan heran menatap saya dari samping.

"Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah
saya
lakukan dulu."

Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya.

Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian.

Setelah tangissaya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari
belakang.

Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya.

Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan
lamanya dan Eric.. Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu.

Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu
yang terbuat dari bambu itu.

Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun!

Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya.

Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.

Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama...

Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas
baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. ..

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar
dari ruangan itu...

Air mata saya mengalir dengan deras.

Saat itu saya hanya diam saja.

Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat
tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami.

Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.

Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua.

Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya
yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang
anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu,
10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu
ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang
memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang
miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga
bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap
hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...?

Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi
saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric.
Bye, Mom..." Saya menjerit
histeris membaca surat itu.

"Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan
meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu!
Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah
meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia
sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini
tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya
akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ...Ia hanya berharap dapat
melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan
kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"

MANDIKAN AKU BUNDA!

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan
digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantanpresiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suaminya meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah
''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.

Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar,
tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan diakhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocahkecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikatkecilku''.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini..

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.
''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya.
Suaminya pun turut membujuk Alifagar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan.Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien,sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya
rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan
komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha
menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara.
Berkali-kaliRani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya atau pun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?'' Saya diamsaja.

Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong.
''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.

Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja
pun makin tua.

-- Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
-- Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
-- Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.
-- Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang.
Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan
ada.
-- Pelajaran yang sangat menyedihkan.
Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tersebut.

Kisah Alanda, Ibunda dan Century berujung 10 Tahun dan 10 Milyar

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu persatu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau. Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi.

Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century. Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.

Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya jarang bertemu beliau. Bahkan ketika saya berulangtahun ke 18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali, karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulangtahun tanpa Ibu. Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.

Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak – agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa. Ibu sempat menjadi broker property, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibupun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional.

Saya lupa kapan… tapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka.

…

Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang?

Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.

Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.

Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Supir diberhentikan, dan hanya punya satu pembantu di rumah. Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.

I can live with that. I’m willing to work part time, do internships, and work my ass off to publish more and more books if it would help my parents, especially my mother. Although I don’t have my own car and I can’t shop luxurious stuff just like my friends do, I’m happy, and I’m willing to live like that. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan. Saya memilih beasiswa dari BINUS International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les Bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangkan kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi.

Awalnya pun berat bagi Ibu, tapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya – selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah mempercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal.

“Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua, karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan tandatangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens.

Oleh karena itulah, saya optimis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja, karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum.

Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.
Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.

Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti.

Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama. Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apapun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.

Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara maupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal.

Kisah Seekor Burung

Kakek si Andi sedang menebang pohon-pohon pisang yang sudah tua di kebun.
“Kakek, mengapa setiap kali Kakek menebang pohon pisang yang telah tua, aku tidak pernah mendapatkan anak-anak burung yang berada dalam sarang di sela-sela sisir buah pisang.”

Kakek Andi menjawab,” Tentu saja Andi. Sebab, burung-burung pipit itu selalu
mendapat perlindungan Tuhan Yang Maha kuasa, berkat kesungguhan mereka dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.”
Andi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban kakeknya. Kemudian,
Ia berkata,” Ah, Kakek mengada-ada! Masa hewan bisa beribadah”
Kau tidak percaya, Nak?” kata kakek. “Pertama-tama coba dengar pada setiap pagi! sebelum matahari terbit, burung-burung pipit itu sudah bangun memuji kebesaran Tuhan sambil bernyanyi. Tidak lama kemudian, mereka harus pergi bekerja mencari nafkah ....“

Andi semakin terpingkal-pingkal ketawanya. Tetapi, Ia senang juga
mendengarkan cerita kakek.
“Jadi, yang kedua, setelah memuji nama Tuhan burung-burung itu
mencari nafkah?” kata Andi. Kakeknya pun melanjutkan bicaranya.
“Dalam mencari nafkah, burung-burung itu tidak mau memikirkan
dirinya sendiri saja. Setelah mendapat hasil, mereka segera terbang
kembali pulang ke sarang masing-masing. Untuk apa? Tidak lain untuk
menyuapi anak-anak mereka yang masih kecil.”
“Apakah itu termasuk ibadah, Kakek?” tanya Andi.
“Ya, tentu saja! Memberi nafkah keluarga adalah termasuk ibadah juga.”

“Yang ketiga ?“ tanya Andi.
“Yang ketiga, mereka selalu taat pada nasihat induknya. Misalnya, tidak boleh tergesa-gesa belajar terbang
sebelum sayapnya benar-benar kuat. Pada waktu belajar terbang, jangan terbang terlalu rendah agar selamat dan
segala macam bahaya.”
“Keempat?”
“Yang keempat, burung-burung pipit selalu suka beramal.”
“Amal macam apa yang mereka lakukan?”
“Macam-macam, sesuai dengan kemampuan mereka.
Misalnya, menunaikan tugas menarik zakat dan infaq
manusia yang lupa membayarnya.”
“Ah, Kakek! Mana bisa, Kek?” tukas Andi,

“Jangan membantah dulu! Dengarkanlah!” sambung kakek. “Kebanyakan manusia di dunia mi lupa men unaikan kewajiban membayar pajak kepada Tuhan yang berupa zakat dan infaq. itulah sebabnya burung-burung pipit membantu manusia untuk melunasi kewajibannya.”
“Bagaimana cara burung pipit menarik pajak?”
“Mudah saja! Mereka menyerbu sawah orang yang sudah menjelang panen. Mereka mengambil butir-butir gabah dan bulir-bulir padi di sawah. Menurut ketentuan Tuhan, manusia harus membayar zakat sebanyak 2,5 kg untuk
setiap anggota keluarga dan membayar infaq 2,5% dari setiap rezeki yang diberikan Tuhan kepada tiap manusia untuk kepentingan siar agama.”

“Sekarang yang kelima, apa lagi?”
“Yang kelima, mereka tidak boleh sombong.”
“Ada lagi Kakek ini! Masa burung bisa sombong?”“Ada!” tukas kakek. “Firman Tuhan menyatakan bahwa: “Janganlah kamu berjalan dengan congkak di atas bumi. Jika ada makhluk Tuhan yang congkak, berarti. melanggar perintah—Nya. Maka, Tuhan akan menghukum setiap makhluk yang melanggar larangan-Nya.”“Nah, jika kamu ingin tahu kisah burung yang sombong, dengarkan cerita kakek . . .

Kakek Andi mengajak duduk duduk sambil beristirahat,
kemudian mulai bercerita.
Diceritakannya bahwa pada zaman
dahulu kala ada seekor burung pipit
yang bernama si Tinggi Hati.
Si Tinggi Hati tidak menyadari bahwa ia
dilahirkan oleh induknya berupa sebutir telur. Demikian pula kakak-kakak dan adiknya yang semua berjumlah lima. Si Tinggi Hati tidak menyadari betapa kedua orang tuanya itu menderita sejak mengandung, melahirkan, mengerami hingga menyusui.
Tahunya hanyalah ia hidup dan ingin memenuhi nafsunya sendiri.

Induknya merasa prihatin dan sedih mengetahui tingkah laku anaknya yang satu ini. Tidak seperti anak anaknya yang lain, setiap pagi memuji kebesaran Tuhan, rajin mencari makan, selalu menurut nasihat orang tuanya, suka beramal dan tidak congkak. Si Tinggi Hati memang anak keterlaluan.
Pada setiap pagi sebelum matahari terbit, si Tinggi Hati marah-marah mendengar kelima saudaranya bernyanyi atau mengaji memuliakan asma Allah. Ia lebih suka tidur mendengkur hingga bangun kesiangan.

Di saat saudara-saudaranya terbang ikut rombongan untuk
mencari makan, si Tinggi Hati hanya tinggal diam di sarang.
Ia Iebih senang bermalas-malas sambil bersolek mengelus
sayap dan bulu-bulunya yang mulai tumbuh indah.
Pada waktu induknya datang, Ia pura-pura
menangis kelaparan dan minta makan.
Induknya memberi nasihat agar si Tinggi Hati
segera belajar terbang. Namun, si Tinggi Hati tidak mau
menurut nasihat orang tuanya itu. Bahkan, semua pelajaran
yang baik dan induknya tidak pernah digubris.

Si Tinggi Hati juga tidak suka beramal. Ia sangat kikir,
bahkan suka merebut makanan milik orang lain.
Setelah ia mulai terbang, ia suka menghina saudara
saudaranya dan teman-teman Iainnya.
“Akulah burung pipit yang paling cepat terbangnya!” kicau
si Tinggi Hati sambil mengepak-ngepakkan sayapnya.
“Anakku. . . .“ kata induknya dengan lemah lembut,
“seharusnya engkau bersyukur kepada Tuhan apabila
engkau diberi kepandaian terbang paling tinggi dan paling
cepat. Jangan sombong, Anakku.”

“Aku pandai terbang karena hash latihanku yang keras, ibu.” bantah si Tinggi Hati. “Badanku kuat dan bulu-buluku bagus berkat usahaku yang ulet, kerja keras, dan pandai mencari makan!”
“Tapi itu semua pemberian Tuhan . . ."
“Ah, Ibu!” potong si Tinggi Hati.
“Kiranya Ibu hanya berolok-olok padaku
agar aku ikut mengaji setiap pagi!”
Induk burung pipit semakin sedih mendengar jawaban anaknya yang selalu membantah nasihat orang tua itu. Semakin sedih induknya jika melihat bahwa si Tinggi Hati suka bersolek dan suka pamer kepada para tetangganya akan bulu-bulunya yang indah itu.

Pada suatu hari si Tinggi Hati berkicau mencela sepasang burung
pipit tetangganya yang sedang sibuk membuat sarang di sela
sisir-sisir pisang yang masih muda.
“Mengapa engkau membuat sarang di sela sisir-sisir buah pisang
yang masih muda? Buahnya kecil-kecil sehingga ruangannya sempit
dan pengap!” demikian cela si Tinggi Hati kepada tetangganya itu.
Dengan ramah tetangganya itu menjawab, “Aku hanya menurut
nasihat Ayah dan lbuku. Katanya, siapa yang menurut nasihat orang
tua akan hidup selamat, aman, dan tenteram.”

“Kau memang tolol!” kata si Tinggi Hati . “Semua tetangga di sini memang tolol semua! Mana mungkin rumah sempit dan pengap dapat membawa keselamatan, keamanan, dan ketenteraman?”“Biarlah!” kata tetangga itu. “Jika kamu tidak suka melihat kami, lebih baik pergi sajalah!”
“Lihat saja nanti!” sambung si Tinggi Hati. “Jika aku akan membuat rumah, tentu kupilih tempat yang nyaman. Akan kucari tandan pisang yang tua, buahnya besar-besar sehingga ruangan di sela sisir-sisirnya cukup luas. Tentu nyaman!”

Demikianlah, pada suatu baat si Tinggi Hati mulai berpasangan dan kemudian istrinya hendak bertelur, dicarinya tempat sesuai selera.
Berhari-hari, setiap waktu senggang setelah selesai mencari makan, ia terbang ke sana kemari bersama istrinya mencari tandan pisang tua yang besar-besar. “Anakku . . .“ kata induknya mengingatkan. “Menurut nasihat orang-orang tua sejak nenek moyang kita, jika hendak membuat sarang, jangan memilih tempat pada tandan pisang yang tua. Pilihlah tandan pisang yang masih muda, biƤr sempit asalkan aman.”

“Ah, Kuno!” bantah si Tinggi Hati. “Sebagal orang pandal,
pendapat semacam itu harus dirombak!”
“Anakku . . .. ,“ kata induknya lagi. “Setelah engkau
berumah tangga dan setelah istrimu bertelur kemudian
menetas, didiklah anak-anakmU kelak agar menjadi
makhluk yang saleh. Pertama-tama, ajarilah ia mengaji
untuk memuliakan nama Tuhan. Kedua. harus rajin
mencari makan. Ketiga, selalu menurut nasihat orang
tua. Keempat, suka beramal. Kemudian., yang kelima.
janganlah congkak.’

Setelah sarangnya jadi, si Tinggi Hati semakin sombong terhadap para tetangganya.
“Lihatlah !“ kata si Tinggi Hati kepada setiap tetangga yang berkunjung menjenguk anak-anaknya. “Lihat! Rumahku besar, indah, dan nyaman. Istriku cantik dan anak-anakku banyak! Semua itu berkat kepandaianku,
kekuatanku, keuletanku, dan kemampuanku.”
Seekor burung pipit sahabatnya mengingatkan . . . ,“ Hai
si Tinggi Hati ! Jangan sombong ! Semua yang ada
pada kita adalah pemberian Tuhan.”

“Lagi-lagi kamu itu menunjukkan ketololanmu.” kata si
Tinggi hati. “Kamu tidak berbeda dengan para tetangga
yang tolol itu! Maka dan itu hidupmu melarat
dan selalu kekurangan.”
“Oh, sahabatku. Sebenarnya kaya dan miskin itu terletak
pada nasib pemberian Tuhan. Kita sebagai makhluk
ciptaannya hanya wajib berusaha.
Hasil usaha, Tuhan yang menentukan.”
“Tidak,!” Bantah si Tinggi Hati. “Bagi saya, nasib itu
terletak dan hasil jerih payah kita sendiri.
Siapa yang pandai pasti akan kaya,
sedangkan yang tolol akan melarat.

“Aku tidak sependapat dengan kata-katamu itu, sahabatku.” kata
teman si Tinggi Hati. “Menurutku, meskipun pandai, jika Tuhan tidak
memberkati engkau pasti bernasib buruk dan jatuh miskin.
Sebaliknya, meskipun tolol, asalkan mendapat berkah Allah,
tentu bernasib baik dan bisa kaya.
“Kau ini menyebalkan sekali!” bentak si Tinggi Hati. “Daripada kita
berbantah, lebih baik pergilah kau dan sini!”
Mendengar kata-kata kasar semacam itu, teman si Tinggi Hati
segera terbang menjumpai teman-temannya. Ia kemudian
menceritakan kesombongan si Tinggi Hati yang keterlaluan itu.

Baru dua minggu berselang, pemilik pohon pisang tempat si Tinggi Hati bersarang itu datang membawa parang. “Mm. Pisangku yang mi sudah ada yang masak.” kata hati pemilik pohon pisang itu. “Kutebang saja pohon pisang mi, lumayan buat kenduri minggu depan.”
Si pemilik pohon pisang itu segera menebang batang pohon pisang tanpa memperdulikan jerit dan tangis anak si Tinggi Hati yang masih kecil-kecil itu.

‘itulah sebabnya maka sampai sekarang tidak ada burung pipit yang mau membuat sarang pada tandan pisang yang
sudah tua.” kata kakek Andi mengakhiri ceritanya. “Cerita Kakek memang baik.Meskipun khayal dan aku tidak percaya, namun aku akan memetik nasihat dalam cerita itu,” kata Andi sambil menggeliat, lalu berdiri. “Jadi, orang harus mengutamakan ibadah, rajin berusaha atau bekerja mencari nafkah, tidak boleh membantah nasihat orang tua, suka
beramal, dan tidak sombong. Begitu kan, Kek?”
“Nah, itu baru cucu kakek. Hehehehehe,